|
Pagi ini aku bangun kesiangan, padahal emang begitu setiap harinya semenjak aku wisuda program pendidikan profesi yang ku emban waktu itu. masalah yang kuhadapi silih berganti dalam hidupku. Semenjak aku dilahirkan hingga sekarang, aku merasa masalah yang menimpaku tidak seberat masalah yang menimpa teman2 sebayaku. Beberapa bulan saja aku dilahirkan aku sudah mendapat masalah yang kebanyakan orang tidak mengalaminya. Tubuhku kurus karena adalam usia 14 bulan aku tak lagi mendapat air susu ibu. Pada usia itu ibuku kembali melahirkan adik perempuan, ibu tidak mungkin menyusui 2 bayi sekaligus karena kondisi keuangan kami disaat itu membuat ibu harus membantu ayah untuk mencari tambahan. Aku di asuh oleh kakak perempuanku begitupun adek ku yang sama bayinya denganku. Suatu ketika ibu pergi kesawah orang bekerja untuk mendapatkan upah walau dalam kondisi belum stabil karena selang beberapa minggu saja habis melahirkan. Aku terbaring lemas tak bernafas, tak ada detak jantung, pucat, kurus kering. Kakak perempuanku tak kuasa dan sangat cemas melihat kondisiku demikian. Akhirnya beliau cari ibu kesawah dan ketika itu aku ditinggalkan dirumah berdua bersama adek yang masih sama bayinya denganku. Kakak perempuan ku menemukan ibu disawah tetangga yang tak begitu jauh jaraknya dari rumah. Dengan tertatih dan terbata kakak perempuanku menceritakan kondisiku saat itu. sentak saja ibu dan orang2 yang sama bekerja dengan ibu kaget dan langsung berhamburan keluar dari sawah dan langsung mereka menuju rumah kami. Ibu menyuruh kakak perempuanku menemui nenek dukun karena hanya beliau yang bertugas sebagai tenaga medis dikampung kami. |
Sesampai ibu dan rekan2 kerjanya dirumah,ibu langsung menangis histeris sambil men cek kondisi ku saat itu. ibu tidak lagi merasakan adanya tanda-tanda kehidupan didalam raga ku. Tak lama waktu berselang kakak perempuanku datang ditemani nenek dukun menyusul dibelakangnya. Dia cek semua tanda2 kehidupan yang biasa orang lakukan ketika keadaan darurat seperti waktu itu. ibu ku bertanya pada nenek dukun sambil masih menaruh harapan besar. Nek bagaimana keadaan anaakku apa dia pingsan? Nenek dukun tidak menjawab apa2 waktu itu, beliau menggendong ku sambil berputar keliling rumah. Beliau membisikkan sesuatu ditelinga ku. 6 jam kemudian terjadilah gempa yang lumayan besar, kejadian itu menambah cemas keluarga ku dan tetangga yang masih menunggu berita tentang ku, apakah sudah meninggal atau masih ada harapan untuk hidup. Setelah gempa itu barulah aku terbangun, sadar dan langsung menangis. Alhamdulillah saut semua orang disekitarku, ibuku langsung mengambil ku dari nenek dukun dan menyusuiku sambil menangis haru, tiada lagi rasa syukur yang dapat ibu katakan disaat itu, betapa beliau sangat bahagia. Sambil ngomel2 sama ibu, nenek dukun memberikan ceramahnya agar ibu memperhatikan kondisi anak2nya, sudah seperti busung lapar anak2mu semuanya. Ya nek…kata ibu sambil menatap mataku dalam2. Anakmu mengalami mati suri,lantas kubisikkan ayat2 alquran ketelinga anakmu, kelak anakmu akan mengalami kehidupan yang amat sangat sulit, masalah besar akan selalu menyertainya. Paling tidak begitu yang dapat kubaca dari tanda2 yang melekat ditubuh anakmu. Yang jadi pertanyaan kemana ayahku waktu itu? disaat kondisi keuangan kami begitu sulit, ayah terpaksa |
| kembali kehutan Dia tidak lagi menggarap kebun disana melainkan membuat “sangku” semacam wadah tampungan yang terbuat dari kayu. Dibuat menggunakan perkakas sederhana, kampakbesar, golok dan kampak kecil. Kayu berukuran diameter 50 cm sebenarnya tergantung pesanan, ditebang dan dipotong2 kemudian dibuat cekungan didalamnya menyerupai ember . satu buah sangku berukuran sedang dapat ayah selesaikan dalam waktu 2minggu dan uang hasil kerjanya selama 2 minggu itu hanya mampu menafkahi kami selama beberapa hari saja. Mendengar kabar tentangku dari kampung dari seorang temannya yang waktu itu memang telah biasa pergi kekebunnya tempat ayah bekerja. ayah tidak menyelesaikan semua pekerjaannya, ada beberapa sangku yang masih terbengkalai saat itu. ayah turun dari hutan dengan mata memerah diwajahnya, mungkin menahan air mata tapi dia masih sempat membawa sangku2 yang telah siap untuk dijual. Sesampainya dirumah, ayah langsung menggendongku lama sekali sambil mendengar cerita ibuku mengenai kejadian yang telah aku alami. Ayahku pun heran dan bertanya-tanya dalam hatinya apakah anakku benar-benar matisuri atau pingsan? |




0 komentar:
Posting Komentar